Aktivitas Logistik Tidak Ramah Lingkungan?
- Bani Darmawan
- 3 hari yang lalu
- 4 menit membaca
Diperbarui: 4 jam yang lalu
Di dunia logistik, banyak aktivitas yang menggunakan sumber daya bahan bakar minyak karena sebagian besar truk menggunakan mesin diesel.
Bahkan tidak jarang gas buang truk berwarna hitam pekat, betul tidak?

Polusi udara berupa jelaga yang dibuat oleh polusi kendaraan pengangkut logistik, membuat asumsi bahwa kegiatan logistik tidak ramah lingkungan.
Tapi di sisi lain, dunia juga lagi ramai ngomongin soal Sustainability, ESG, sampai target net zero emission karena dampak global warming semakin terasa.
Akhirnya muncul pertanyaan klasik, apakah kegiatan logistik bisa ramah lingkungan?
Jawabannya: Bisa banget!
Logistik dan Tantangan Emisi
Logistik itu bukan cuma soal kirim barang dari titik A ke B, tapi juga tentang:
● Pengaturan moda transportasi (darat, laut, udara, dan multimoda)
● Konsolidasi/penggabungan kargo
● Rute lintas kota bahkan lintas negara
● Koordinasi dengan banyak pihak (first mile, midmile dan last mile)
Dari aktivitas logistik tersebut, apakah kalian tahu bila sektor transportasi dan logistik ternyata menyumbang hampir 25% emisi global menurut laporan World Economic Forum 2024. Tidak heran kalau sekarang kegiatan logistik seperti distribusi yang lebih ramah lingkungan lagi ramai dibahas.
Bahkan laporan Kementrian ESDM tentang Inventaris Emisi tahun 2020. Di Indonesia sendiri, pada Tahun 2019, kategori transportasi mengeluarkan emisi sebanyak 157.326 Gg CO₂e dengan peningkatan rata-rata sebesar 7,17% per Tahun. Peningkatan emisi ini berbanding lurus dengan peningkatan konsumsi bahan bakarnya yang mencapai 7,56% per Tahun.
Secara umum, kegiatan logistik yang tidak ramah lingkungan identik dengan:
● Polusi yang ditimbulkan truk diesel
● Penggunaan kemasan plastik

Semua ini bikin emisi yang dihasilkan jadi tinggi dan juga menyumbang sampah atau limbah plastik. Maka dari itu, pengiriman sering dianggap bertentangan dengan prinsip sustainability.
Konsep Green Supply Chain Management (GSCM) mulai diperkenalkan dan diimplementasikan di banyak perusahaan yang mendukung keberlanjutan, atau sustainability
Lalu dalam Report on Green Logistics yang dikeluarkan oleh United Nations Economic Commission for Europe (UNECE), DHL nunjukin kalau perusahaan yang serius jalanin green logistics bisa ngurangin emisi sampai 450 ribu ton CO₂, plus hemat energi sekitar 2,4%. Jadi bukan cuma good for the planet, tapi juga good for business.
Jelas sektor logistik jadi salah satu penyumbang emisi. Jadi aktivitas pengiriman kargo lewat jasa logistik punya dampak terhadap carbon footprint.
Oleh karena itu, jasa logistik sekarang tidak lagi dilihat cuma proses pengirimannya, tapi juga dari dampak lingkungannya.
Tanggung Jawab Carbon Footprint
Di era perkembangan teknologi dan kegiatan ramah lingkungan yang makin gencar di Indonesia, makin banyak perusahaan yang mulai mengitung jejak karbon dari seluruh rantai pasoknya, termasuk logistik.
Bukan cuma emisi langsung, tapi juga emisi tidak langsung alias Scope 3. Artinya. Walaupun perusahaan nggak punya armada sendiri, aktivitas logistik tetap terhitung di carbon footprint bisnis perusahaan.
Maka dari itu, milih partner logistik sekarang bukan sekadar soal harga dan kecepatan, tapi juga tentang gimana cara sebuah bisnis ikut andil kegiatan keberlanjutan yang ramah lingungan serta keseriusan komitmen mendukung ESG, bukan cuma embel-embel saja.
Truk Listrik & Peran Logistik Modern
Dilansir dari The International Council on Clean Transportation, truk listrik di sektor logistik bisa memangkas emisi 63% dibanding truk diesel, tergantung dari sumber listrik dan pola operasionalnya. Buat sektor logistik, ini jelas jadi game changer karena:
● Pengiriman tetap berlangsung
● Emisi langsung bisa ditekan habis-habisan
Jadi, target net zero emission pada sektor logistik sekarang bukan cuma jargon doang. Pelan tapi pasti, udah mulai bisa direalisasikan di lapangan.
Konsep yang sebelumnya berasal dari Green Supply Chain Management kemudian turunannya menjadi Logistic Hijau atau Green Logistic.
Salah satu penerapan logistik hijau adalah dengan menggunakan armada listrik yang minim carbon footprint.
Sewa Truk Listrik yang Ramah Lingkungan
Untuk menjalankan aktivitas logistik, tidak semua perusahaan memiliki armada, bahkan perusahaan logistik sekalipun kadang tidak memiliki armada atau truk sendiri, apalagi truk ramah lingkungan ataupun Electric Vehicle (EV).
Di sinilah model sewa truk, seperti sewa truk listrik, jadi solusi yang realistis.
Tidak hanya lebih ramah lingkungan tapi sewa truk listrik bikin biaya logistik jadi lebih murah
Melalui sistem sewa truk, maka perusahaan :
● Nggak perlu investasi besar di awal
● Penggunaan bisa disesuaikan kebutuhan
● Penggunaan EV menekan emisi secara bertahap
Pendekatan ini banyak direkomendasikan dalam strategi logistik berkelanjutan, karena mendukung perbaikan laporan keberlanjutan atau laporan ESG.

Di tengah perubahan ini, perusahaan logistik seperti Kargo Tech mulai mengambil peran dengan menerapkan pendekatan berkelanjutan, mulai dari penggunaan Electric Vehicle (EV) seperti sewa mobil blindvan listrik dan sewa pickup listrik serta sewa truk listrik, pengelolaan rute yang lebih efisien dengan Kargo Nexus Transport Management System, sampai sistem pengiriman yang lebih terintegrasi dengan Kargo Nexus Fleet Management System, sehingga bisa memangkas emisi secara signifikan.
Bahkan Kargo Tech juga menampilkan laporan jumlah Carbon Footprint yang bisa digunakan untuk mendukung pembuatan laporan keberlanjutan atau laporan ESG.
Sekarang, dunia logistik tidak lagi sekadar urusan mindahin barang saja, dengan dorongan Sustainabilitas dan target net zero emission, logistik yang ramah lingkungan bisa terealisasi.
Tertarik Sewa Truk Listrik?
Atau Butuh Sewa Truk Lepas Kunci jenis Truk Listrik daerah Jabodetabek?
Hubungi Customer Service melallui Whatsapp di +6285210744814 atau klik tombol dibawah ini
Penulis : Ivan Bayu Raditya Editor : Bani Darmawan Update : 30 Januari 2026



Komentar